top of page

Ketika Harika menemukan arti penting Ekonomi Kelembagaan

  • Gambar penulis: harikaSoul
    harikaSoul
  • 10 Des 2018
  • 3 menit membaca

Haiiiiii.....

I have to tell you a wonderful story Guys! I hope you like it.


Cekreek!

Mungkin satu semester ganjil (semester 5) ini belum terlampau habis, namun sudah banyak hikmah yang aku dapat di beberapa bulan berhargaku ini. Yaps, semua berawal dari mata kuliah Ekonomi Kelembagaan yang dibimbing oleh salah satu dosen muda Kami yang cukup memberi pengaruh besar bagi para mahasiswanya. Terima kasih Ibu Dosen :”)


Singkat cerita menariknya, pertama sebelum praktik belajar mengajar dimulai, Kami (Ibu dosen dan mahasiswa di kelas) membuat dan menyepakati kontrak kelas. Mungkin terdengar B aja ya, usut punya usut, Ibu menjelaskan bahwa sebenarnya di pertemuan awal itu kami sudah dibekali dasar ilmu kelembagaan Lho Sobat!


Jadi Ibu Dosen berkata “Kontrak yang kita bikin ini ya termasuk dalam ilmu yang akan kita pelajari selama satu semester ke depan, Ekonomi kelembagaan itu Rule of the Game (aturan main), jadi kita bikin rule of the game buat kelas kita ini” begitu kurang lebih redaksi kalimatnya.


WOW! Sampai-sampai aku tak menyangka kalau ternyata hal yang mungkin kebanyakan orang anggap remeh itu ada ilmunya (mungkin aku sendiri sih hehe). Dari pertemuan pertama itu, aku mulai interested sama Ekonomi Kelembagaan. Recehlah aku ini :D

Lalu apa menariknya lagi Harika?


Nahh, jadi setiap presentasi kelompok usai, Ibu dosen selalu memberikan tambahan materi yang mungkin belum disampaikan presenter. Setiap teori yang Beliau sampaikan selalu diikuti contoh-contoh yang tak terduga pula. Aktivitas yang kita angga biasa aja ternyata masuk dalam teori-teori Ekonomi Kelembagaan Lho Sobat.

Contoh:


· Ekonomi Kelembagaan bilang bahwa “Yang menentukan permintaan itu sebenarnya bukan harga, tapi pendapatan

Kok bisa? Permintaan disini itu berasal dari sisi konsumen kan, padahal harga itu yang menetapkan sebenarnya produsen untuk memudahkan usahanya saja. Konsumen bisa melakukan suatu permintaan kalau dia punya pendapatan bukan. Kalau tak berpendapatan, gimana bisa beli barang/jasa? Yekaaan!

· “Kebijakan ekonomi itu sangat bisa dipengaruhi oleh hal-hal diluar aktivitas ekonomi”

Seperti saat melakukan jual beli dengan menggunakan bahasa daerah yang sama antara penjual dan pembeli, maka terdapat kemungkinan bahwa harga barang/jasa bisa turun. Hal-hal kecil semacam ini masih terjadi di lingkungan kita Lho Sobat!

· Pada dasarnya, setiap aktivitas itu bakal mengeluarkan biaya-biaya. Di luar biaya produksi, ternyata ada biaya transaksi yang implikasinya cukup besar jika dihitung-hitung Lho. Untuk mengundang seorang pemateri seminar saja, biaya produksi cukup bilang “Fee Pemateri, biaya konsumsi, biaya transportasi, dan lain-lain yang sifatnya materiil”, sedangkan biaya transaksi bilang “biaya penyambutan yang hangat dan wah, biaya apresiasi, biaya mengajak berkunjung ke tempat-tempat unik di kota seminar itu berlangsung, dan lain-lain yang sifatnya tidak dianggarkan panitia”

Okee, cukup besarkan jika ditotalkan. Sekilas pun nampak minus rasanya, tapi sebenarnya ekonomi kelembagaan bilang kalau fenomena semacam ini justru akan memberi dampak positif jangka panjangnya Lho! Hubungan jadi lebih akrab, relasi jadi makin banyak, dan tentunya jika mau ngundang pemateri itu lagi jauh lebih mudah hehehe.


Segitu aja kali ya contohnya, padahal sebenarnya masih banyak yang pengin harika ceritakan. Eiitts, kesimpulannya, materi Ekonomi Kelembagaan yang paling menyita perhatian Harika tuh yang mana?


Jawabannya adalah...

“ Teori Modal Sosial “


Di aktivitas ekonomi umumnya kita hanya mengenal modal manusia dan modal ekonomi. Rasa-rasanya, sebuah organisasi hanya hidup sendiri ya kalau cuma mengandalkan dua modal itu. Padahal realitanya tidak. Jangankan organisasi, manusia saja tidak bisa hidup tanpa manusia yang lain bukan. Apalagi organisasi yang cakupan aktivitasnya lebih mendalam dan terstruktur pastinya. Untuk mencapai visinya, organisasi mesti menjalankan misi-misi yang sudah dibuat sebelumnya sehingga menjadi suatu kebutuhan khusus modal sosial itu diandalkan.


Jaringan informasi, struktur kewajiban dan kepercayaan, serta norma dan sanksi adalah tiga bentuk modal sosial yang urgensinya dibutuhkan oleh tiap individu maupun kelompok kepentingan/organisasi. Harika ambil satu sub materinya, yaitu kepercayaan, Ibu dosen bilang bahwa ruh modal sosial itu ada di kepercayaan. Membangunnya membutuhkan waktu dan materi cukup banyak, jadi jangan sia-siakan kepercayaan yang orang lain berikan kepada kita karena dari situlah nantinya akan terbentuk suatu jaringan sosial yang menentukan kemana arah kita selanjutnya.


“Disamping bangun jaringan yang banyak, bangun pula integritas diri kita”

Ibu dosen


Alhamdulillah, banyak sedikit value dan score yang bisa Harika dapat dari mata kuliah ini Sobat! fakta berbicara bahwa kelembaagan Indonesia masih belum optimal sehingga bikin aktivitas ekonomi terhambat dan menular pada aktivitas non-ekonomi. Hmm, lalu sampai kapan hal ini berakhir? semua bisa dengan memulai dari diri sendiri, apapun itu, besar kecilnya suatu pencapaian akan merefleksikan tindakan kita Sobat.


And princess life happily ever after.

NB: the last story but not least ya Sobat, see You next time!

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar


Jangan sampai ketinggalan, Subscribe Yuk!

bottom of page