top of page

#BOOKREVIEW II FILOSOFI TERAS

  • Gambar penulis: harikaSoul
    harikaSoul
  • 28 Agu 2019
  • 3 menit membaca

Penulis             : Henry Manampiring

Illustrator         : Levina Lesmana

Penerbit          : PT Kompas Media Nusantara

Tahun terbit    : 2019

Harga              : Rp 98.000

I’m so sorry Sob, lama gak posting di blog dikarenakan pertarungan antara kesibukan dan kemalasan, haha. Eittss, don’t worry be happy as always yaa! Coz, I’m gonna review a little bit of self improvement book, that’s FILOSOSI TERAS, yang beberapa kali iklan bukunya auto nongol di instastory.


Oke sebelum lanjut, kabar baiknya setelah aku baca penuh buku ini, I’m positive it’s one of my milestone of my life, karena ada beberapa perubahan dari mindsetku terhadap suatu hal. Yahh, ini pertanda bahwa Filosofi teras is worth to read.


Seperti buku self improvement yg ‘lagi trend’ sekarang ini membahas soal “bodo amat sama pikiran orang lain”, Filosofi Teras menyinggung hal yang sama. Asal muasal, filosofi teras sebenarnya versi Indonesia dari istilah Stoa, Yunani. Bagian awal buku ini menceritakan asal usul munculnya filsafat stoa yang menjadi pengalaman para filsuf Yunani kuno dalam resiliensinya menghadapi masalah hidup. Lebih detailnya soal asal-usul, kalian bisa cari referensi sendiri yaa, hohoho.


Sebelum Om Piring (panggilan populer penulisnya) menjelaskan perkara teori dan teknis filosofi teras ini, beliau menunjukkan bukti kekhawatiran nasional tentang beberapa hal, at least from these information we know that Indonesian people had been attack by insecurity and negative emotion. Termasuk saya pastinya, hehehe.


Menurutku ide surveinya ini keren, soalnya bisa memperkuat alasannya menulis buku ini. Selain itu, di dalamya juga terdapat hasil wawancara Om Piring dengan beberapa tokoh yang bergelut di bidang kesehatan mental, seperti Dr. Andri, SpKJFAPM.


Jadi, meskipun filsafat kesehatan mental yang satu ini dibilang udah tua banget, bukan berarti dia tidak layak dipraktikkan di zaman sekarang lho Sob. Om Piring dan beberapa temannya yang berprinsip pada filsafat stoa udah membuktikanya lho. So yaah, kalau kalian termasuk dari orang-orang yang butuh mental dan emosinya makin sehat, alasan apalagi coba untuk tidak membacanya?? Hmm


Selanjutnya, dua poin penting yang kudapat dari filosofi teras adalah tentang hidup selaras dengan alam dan dikotomi kendali. Yuk kita bahas singkat.


Hidup selaras dengan alam kurang lebih berarti bahwa setiap kejadian dalam hidup itu selaras dengan alam sekitar atau kita dituntut untuk sadar terhadap keterkaitan(interconnection) di kehidupan. Kalau kataku sih bisa disebut hukum sebab-akibat gitu.


Mengutip salah satu quotes di buku ini bahwa,

“ Hidup selaras dengan alam artinya kita harus sebaik-baiknya menggunakan nalar, akal sehat, dan rasio karena itulah yang membedakan manusia dengan binatang ”

Jadi kalau kita mengingkari apa-apa yang telah terjadi di hidup kita, bisa dibilang kita gak selaras dengan alam.  Simplenya sih begitu Sob.


Nahhh selanjutnya tentang dikotomi kendali. Om Piring mengatakan bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita dan ada yang tidak, orang bijaklah yang bisa mengenali dan membedakan kedua hal tersebut dalam hidupnya.

Contoh hal yang di berada di bawah kendali kita:

- Pikiran

- Persepsi atau sudut pandang

- Tindakan kita


yang berada di luar kendali:

- Kesehatan

- Reputasi

- Opini orang lain

- Reaksi dan atau respon orang lain

- Kekayaan

- Dll


Kita bisa menilai suatu “masalah” menjadi masalah atau beban hidup jika kita menilainya demikian, namun jika sudut pandang kita menilainya sebagai peluang atau pelajaran dan bisa membangkitkan semangat hasilnya “masalah tersebut” tidak akan jadi masalah. Ilustrasi sederhananya sih seperti itu untuk hal yang berada di bawah kendali kita, yakni SUDUT PANDANG.


Oiya, yang perlu digarisbawahi juga dari dikotomi kendali adalah dia tidak sama dengan pasrah pada nasib. Kita SANGAT DIANJURKAN sadar penuh membedakan hal yang berada di bawah kendali sama di luar kendali daaaaan memfokuskan pada hal yang bisa kendalikan saja. Kenapa begitu?? Yaa kemungkinan buruknya kalau segala hal tidak sesuai ekspektasi, kita gak begitu kecewa dan galau. Biasa aja gitu. Toh  itu juga di luar kendaliku. Yaa meskipun praktiknya gak semudah bernafas, bukan berarti gak bisa lho. Kalau pola pikir kita terus dilatih untuk membedakan kedua kategori itu lama-lama juga bakal terbiasa Sob. Semua hanya masalah waktu kok, Eaaa.


Selain kedua poin utama di atas, buku yang memiliki 320 halaman ini juga memuat bab memperkuat mental, hidup di antara orang yang menyebalkan, menghadapi kesusahan dan musibah, menjadi orang tua (parenting), tentang kematian menurut filosofi teras, praktik filosofi teras, daaan apa aja yang menjadi keresahanmu kurang lebih bisa terobati dengan membacanya.


That’s all and see u when I see u Sob!!

Komentar


Jangan sampai ketinggalan, Subscribe Yuk!

bottom of page